Narasi Novel Dago Love Story


 Narasi: Dago mengikuti arah pandang perempuan itu hingga dia menemukan seorang pria tua berdiri di sisi mobil Fortuner berwarna hitam. Keduanya saling menatap.

“Tar?”
Dago mencari satu jawaban paling masuk akal dari pertanyaan di kepalanya sendiri. Mungkinkah itu ayah Mentari? Apakah dia orangnya? Dia merasakan tangan Mentari gemetar ketika meremas lengannya. Getaran itu makin menjadi saat si pria tua mendekati mereka, lalu berdiri tepat di hadapan keduanya.
“Mentari? Kamu anak Papa, ‘kan?”
Napas Mentari menjadi sesak ketika suara berat itu mengalun hingga ke indera pendengarannya.
Dago menatap wajah kekasihnya. Dia terhenyak saat melihat titik air mata menetes di pipi Mentari. Jadi benar, itu adalah ayahnya Mentari.
“Papa…,” bisik Mentari parau.
“Ya, ini Papa, Nak.”
Mentari melepaskan genggam tangannya pada Dago lalu menghambur ke dekapan pria tua itu. Tangisan mereka berbaur menjadi satu. Mentari terisak di dada sang ayah, dan tangan besar ayahnya mengusap penuh sayang rambut hitam Mentari.
“Anak Papa… maaf Papa baru cari kamu sekarang, Nak. Maafkan Papa….”
“Papa, hiks, T-Tari kangen... Mentari kangen banget sama Papa.”
Dago melihat laki-laki itu melepas pelukannya, lalu menangkup wajah kekasihnya dan mengusap lembut derai air mata Mentari. “Anak Papa cantik sekali. Maafkan Papa, Nak. Papa jahat sama Tari… Papa jahat sekali sama anak Papa sendiri.”
Lewat air mata dan isakan Mentari, Dago tahu betapa harunya Mentari saat ini. Kekasihnya bisa kembali merasakan dekapan hangat dari laki-laki yang meskipun pernah melukainya, tetapi sangat disayanginya. Dia tahu laki-laki ini penyebab ketakutan Mentari. Namun, dia juga tahu bahwa jauh di dalam hati perempuan itu, Mentari sangat mencintai ayahnya.
“Nak, maaf jika selama ini Papa jahat sama Tari. Malam itu Papa bermimpi didatangi seorang gadis kecil. Gadis kecil itu kamu, anak Papa. Yang rambutnya dikepang dua dan begitu manis memakai gaun selutut berwarna putih. Dalam mimpi, Papa gendong Tari… Papa peluk dan mencium kamu.”

Komentar